Berkat Nasi Bungkus Aku Bisa Bersekolah

Karya Ellsa Christy Maharani (XII TKJ 2) 

 

      Putra, pelajar usia 14 tahun asal Sidoarjo. Ia terlahir dari keluarga sederhana, dimana setiap harinya harus berjualan nasi bungkus untuk membayar sekolah. Kesulitan yang Putra alami saat ini adalah tidak memiliki fasilitas mendukung untuk balajar. Sebagaimana pada kondisi pandemi membuat semua sekolah memutuskan untuk menerapkan sitem belajar online. Dalam kondisi memprihatinkan ini pasti semakin sulit bagi Putra, tetapi diusianya sekarang Putra mampu menjadi anak yang mau bekerja keras dan berjuang untuk tetap bersekolah.

      Di era pandemi corona tak hanya gadget, kuota internet juga menjadi salah satu kendala selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Juga adapun pengeluaran orangtua dari Putra yang semakin bertambah akibat terdampak perekonomiannya karena pandemi corona. Jangankan membeli kuota internet untuk membayar sekolah saja terkadang masih kesulitan. Ayahnya baru saja menjadi karyawan yang terkena dampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hal ini tentunya semakin menjadi ujian bagi keluarga Putra.

      Namun ditengah keterbatasan yang ia alami, Putra tidak menyerah begitu saja ia tetap berusaha agar dapat bersekolah untuk meraih cita-cita yang diinginkan. Meskipun dari keluarga pas-pasan, tetapi menurut Putra yang namanya pendidikan itu sangatlah penting dan hampir semua anak menginginkan untuk dapat bersekolah. “Harapan kula mugi-mugi masa pandemi niki gelis rampung kajengipun kula saged bersekolah kaliyan normal. Kula kangen sanget masa-masa sekolah kajengipun kepanggih kaliyan kanca-kanca.” Selain bersekolah Putra juga membantu ekonomi keluarga dengan bekerja di setiap harinya.

      Putra yang mulai beranjak remaja sudah menggeluti pekerjaan menjadi penjual nasi bungkus sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Tetapi disamping itu Putra tidak melupakan kewajibannya untuk belajar, Putra juga tergolong anak yang cerdas. Dibalik kerja kerasnya menjual nasi bungkus hasil masakan ibunya, terkadang ibunya juga ikut membantu berjualan nasi bungkus dan dibantu oleh ayahnya. Namun hasil yang didapat belum cukup untuk melengkapi kebutuhan hidup keluarga mereka. Hasil upah jual nasi bungkus dari kerja keras Putra lah yang menjadikan ia mampu menempuh pendidikan hingga saat ini.

      Di usianya yang masih tergolong muda ia harus berjualan mulai dari jam 5 pagi hingga jam 7 pagi dengan semangat mengayuh sepedanya. Perjalanan mulai dari rumah ke tempat ia berjualan cukup jauh dengan jarak tempuh sekitar 4 km. Melelahkan, namun ia tidak pernah mengeluh. “Setiap pagi kadang saya merasa kedinginan karena harus keluar untuk menjual nasi bungkus. Padahal sampun ngginakaken jaket nanging hawanipun kraos ngantos datheng balung, kaliyan kula mbekta sekul bungkus niki,” Putra berkata sambil tersenyum. Disamping ia berjualan Putra tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai siswa dan siap-siap bersekolah saat pukul 8 pagi untuk segara kembali ke rumah.

      “Nrimo ing pandum.” Ungkapan ini yang sering diucapkan Putra sebagai bentuk rasa syukur ia kepada Sang Kuasa dan menjalani semuanya tanpa menyerah. Tentu saja kehidupan Putra tidaklah mudah bagi anak yang mulai beranjak dewasa, masa muda yang mana seharusnya dia fokus menuntut ilmu, justru dia habiskan untuk bekerja membantu keluarganya.

Dia tidak pernah merasa malu dengan teman sebayanya. Meskipun tempat ia berjualan berdekatan dengan sekolahnya.

      Namun, Putra sadar dia berbeda dengan mereka. Hidup Putra tak semudah dengan apa yang teman-temanya rasakan dimana mereka mempunyai fasilitas lebih untuk menjalani sekolah online. Sedangkan Putra harus berjuang mengumpulkan pundi-pundi uang untuk bersekolah. Disamping Putra tidak memiliki fasilitas balajar yang mumpuni. Putra setiap harinya harus bergantian dengan adeknya saat menggunakan handphone. Kadang kala ia harus menumpang ke rumah tetangga untuk mendapatkan akses internet.

      Kesulitan yang dialami Putra memang sangatlah besar, sulit bagi anak diusia seperti Putra menjalani kehidupan seperti ini. Biaya hidup keluarga dan biaya sekolah Putra dengan adiknya yang semakin tinggi membuat orang tua Putra keberatan. Tapi hal itu tak membuat semangat orang tuanya dan Putra surut. Meskipun Putra harus bekerja keras dan membantu ibunya, Putra tetap tegar. Karena Putra yakin sebuah perjuangan keras yang ia jalani saat ini pasti akan dibayar dengan hal yang tak murah kelak.

      Putra tak akan berhenti berjuang untuk bersekolah bagaimanapun kondisinya. Berkat kerja keras dan semangatnya untuk bersekolah Putra bisa menjadi anak yang berprestasi di sekolah. Ia akan terus berjuang sampai pada suatu hari nanti ia mendapat beasiswa pendidikan dan menjadi yang orang sukses. Putra tak akan lupa diri bahwa dia tetap harus bekerja keras, bersyukur, dan membanggakan kedua orang tuanya.

Catatan :

  • Harapan kula mugi-mugi masa pandemi niki gelis rampung kajengipun kula saged bersekolah kaliyan normal. kula kangen sanget masa-masa sekolah kajengipun kepanggih kaliyan kanca-kanca : harapan saya semoga masa pandemi ini cepat selesai agar saya dapat bersekolah dengan normal. Saya sangat rindu masa-masa sekolah agar bertemu dengan teman-teman.
  • Padahal sampun ngginakaken jaket nanging hawanipun kraos ngantos datheng balung, kaliyan kula mbekta sekul bungkus niki : padahal sudah menggunakan jaket tapi hawanya terasa sampai ke tulang, dengan saya membawa nasi bungkus ini.
  • Nrimo ing pandum : menerima segala pemberian apa adanya tanpa menuntut lebih dari itu.

Bagikan berita