Kelas dalam Pasar untuk Babak Baru Komuk Merdeka Belajar di Masa Pandemi

Artikel karya Adinda Jasmine Aurelia Bilqis (X TJA 5)

Pendidikan semestinya mengantarkan manusia untuk menjadi manusia seutuhnya. Pendidikan menjadi jalan untuk memerdekakan manusia dalam melakukan fitrahnya di muka bumi ini. Seorang yang terdidik adalah dia yang mampu mengenali dirinya dengan baik dan bisa berkontribusi dalam kehidupan ini sebaik-baiknya.” –Rudolf Stainer

Hal tersebut senada dengan konsep merdeka belajar yang telah dicanangkan bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara dalam semboyan Tut Wuri Handayani. Tetap membimbing dan memberi kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi buah pikiran. Keberhasilan pendidikan anak bisa dilandasi dari berbagai faktor yakni faktor eksternal dan internal.

Faktor eksternal keberhasilan pendidikan anak adalah lingkungan sekolah yang berarti guru menjadi fasilitator pembelajaran. Sedangkan faktor internal keberhasilan pendidikan anak adalah keluarga. Dalam hal ini bimbingan orangtua sangat berperan, terutama di masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Masih segar dalam ingatan, ujaran Menteri Pendidikan Nadiem Makarim lewat siaran youtube di kanal Kemendikbud Sabtu 8 Agustus yang lalu. Pembelajaran jarak jauh disiapkan untuk jenjang PAUD, SD, SMP, SMA,dan SMK beserta penerapan kurikulum darurat. Meski banyak keluhan seputar pembelajaran jarak jauh, faktanya sistem pembelajaran ini akan tetap digunakan sampai batas waktu yang tidak ditentukan mengingat pandemi belum berakhir.

Seperti yang dirasakan oleh Riris Supriati (49). Menjadi sosok single parent dengan 2 buah hati yang masih tercatat sebagai siswa aktif di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama memberinya kesan tersendiri. Masa pandemi membuatnya harus mahir membagi waktu untuk mendampingi pembelajaran jarak jauh buah hatinya dan juga berdagang di toko kelontong miliknya.

Pagi hari setiap selesai menunaikan salat subuh, Riris mulai bersiap menuju toko kelontongnya di Pasar Gedangan, Sidoarjo. Berbekal karung barang berisi sembako dagangannya dan juga motor matic yang biasa ia gunakan untuk berpergian. Senin pagi itu (24/8) Riris bersama putra keduanya berangkat ke pasar.

Dinginnya angin pagi menusuk tulang Riris dan Rahmat (9) putranya yang berdiri di atas dasbor motor. Perjalanan mereka dari rumah ditempuh dalam waktu 30 menit untuk sampai di Pasar Gedangan. Bagi Rahmat hal ini tentu tidak biasa, namun Riris bersikukuh agar buah hatinya tetap berada dalam pendampingannya selama proses pembelajaran jarak jauh. Dengan membawa satu bulpen dan buku tulis Rahmat siap belajar bersama Riris – ibunya di pasar.

Menjadi Wanita Multitasking

Menurut Riris di antara kedua buah hatinya, Rahmat yang masih duduk di bangku kelas 3 SD lebih membutuhkan perhatian daripada putri sulungnya – Anggraini (15) yang duduk di bangku kelas 9 SMP. Walaupun bagi Riris kedua buah hatinya tetap sama-sama memerlukan pendampingannya dalam proses pembelajaran jarak jauh.

Namun seperti tak ingin melupakan kewajibannya sebagai tulang punggung keluarga, Riris mengusahakan agar waktunya dapat terbagi dengan baik antara berdagang dan mendampingi Rahmat selama PJJ. Pendapatannya sebagai seorang pedagang sembako selama ini dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk alasan itulah Riris akhirnya memutuskan untuk berdagang sekaligus menjadi “guru pendamping” untuk buah hatinya.

 

Beruntung, toko kelontong Riris selalu ramai pembeli karena letaknya yang dekat dengan pintu utama pasar. Hal itu jugalah yang membuatnya tetap semangat dalam mengais nafkah.

“Biasanya toko saya ramai sekitar jam setengah 6 sampai jam 7. Jam-jam ramai pembeli itu bertepatan dengan dimulainya pembelajaran daring anak saya,” ujar Riris di sela-sela kesibukannya. Situasi toko yang ramai kadang membuat Rahmat tidak fokus belajar, sehingga riris menyediakan tempat khusus untuk Rahmat belajar yang berada di pojok toko. Dengan begitu Riris tetap bisa mengawasi Rahmat sekaligus melayani pembeli.

Ketika toko mulai lengang pembeli Riris dapat mendampingi proses pembelajaran jarak jauh Rahmat lebih optimal. Ia menekankan, meskipun sekolah dilaksanakan dengan sistem pembelajaran jarak jauh sebagai seorang siswa Rahmat tetap harus mengutamakan nilai-nilai kesopanan.

“Meskipun belajar daring anak saya nggak boleh kehilangan sopan santunnya. Makanya, waktu mendampingi belajar saya menyuruh dia berdoa dulu. Lalu saya arahkan anak saya untuk memperhatikan gurunya dan bertanya menggunakan kalimat yang sopan kalau ada pelajaran yang belum dipahami,” jelas Riris sambil menimbang telur salah satu pembelinya.

Di akhir pembelajaran daring Riris selalu menanyakan tugas yang harus di kerjakan oleh sang buah hati. Riris mengajarkan kepada buah hatinya untuk disiplin dalam mengerjakan tugas sekolah. Riris membiasakan Rahmat pandai mengelola waktu untuk belajar, mengerjakan tugas, dan beristirahat. Tuntutan Melek Teknologi

Meskipun tampak berjalan sesuai harapan, bukan berarti mendampingi Rahmat dalam proses pembelajaran daring jauh dari kendala. Kendala lain yang tak bisa diubahnya menjadi PR bagi ibu rumah tangga satu ini adalah tuntutan untuk melek teknologi. Sebelum proses pembelajaran jarak jauh, sekolah virtual tak pernah terlintas dalam benaknya.

Alhasil ketika kedua buah hatinya mulai menerapkan sistem pembelajaran daring, Riris rela dengan tekun mempelajari beragam aplikasi online penunjang proses pembelajaran seperti zoom, quizziz, google class dan aplikasi lainnya yang serupa. Riris biasa mempelajari semuanya melalui tutorial di kanal youtube. Di sela-sela waktu senggang sepulang dari pasar, ia tak ingin melewatkan kesempatan untuk belajar.

“Malah waktu di pasar saya juga suka nanya-nanya ke pembeli cara mengoperasikan zoom, google form, dan kawan-kawannya. Sering bingung tapi ya kalau saya nggak bisa, siapa yang ngajarin Rahmat dan Anggraini kalau bukan saya” tutur wanita asli Sidoarjo tersebut.

Menurut Riris dengan adanya program pembelajaran jarak jauh secara tidak langsung para orang tua juga ikut belajar untuk berperan dalam pembelajaran era digital yang sebenarnya. Para orang tua harus bisa megikuti perkembangan IPTEK agar pembelajaran jarak jauh dapat berjalan ideal. Agar mewujudkan proses dan hasil pembelajaran yang maksimal—baik guru atau orangtua wajib bersinergi.

Seperti yang dilakukan oleh Riris ketika ia tidak mampu memecahkan kegundahannya selama proses pembelajaran daring berlangsung. Maka yang bisa ia lakukan adalah berkonsultasi kepada guru penanggung jawab kelas. Hal ini dilakukan supaya tidak terjadi kesalahpahaman sekaligus membangun relasi yang baik antara orang tua dan guru.

“Kalau untuk pembelajaran jarak jauh, saya sih setuju aja. Tapi harapan saya semoga keadaan bisa normal lagi. Rahmat dan Anggraini sudah kangen belajar di sekolah” ujar Riris.

Kegiatan pembelajaran daring sudah selayaknya menjadi perhatian utama semua pihak. Mengingat pembelajaran jarak jauh yang akan menjadi kompas sekunder setelah pembelajaran tatap muka dalam arah pembentukan karakter, pemahaman informasi baru, serta perkembangan psikologi bagi para siswa. Terutama bagi orangtua siswa. Pengadaan “kelas kedua” oleh orangtua untuk anak-anak dengan mengadakan pendampingan selama pembelajaran berlangsung akan menjadi kontribusi vital bagi pelaksanaan dan kesuksesan sistem pembelajaran jarak jauh.

Setelah menjadi guru di kelas dalam pasar Riris mengemasi barang dagangannya. Rahmat pun pulang membawa bingkisan informasi baru yang tersimpan baik dalam ingatannya. Begitu harapan Riris.

Bagikan berita