; ;

Nyadran Sebagai Bentuk Syukur Masyarakat Balongdowo-Sidoarjo

KARYA Agsel Abiyyu Ghoxi (X TJA 4)

Kearifan lokal apakah yang sudah kalian ketahui? sebagai generasi millenial saat ini yang hidup di jaman serba digital selayaknya kita tak boleh melupkan tradisi baik yang ada disekitar kita.

            Bentuk-bentuk kearifan lokal adalah kerukunan Bergama dalam kerukunan beragama dalam wujud praktik sosial yang dilandasi suatu kearifan dari budaya. Bentuk-bentuk kearifan lokal dalam masyarakat dapat berupa budaya (nilai, norma, etika, kepercayaan, adat istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus). Nilai-nilai luhur terkait kearifan lokal meliputi Cinta kepada Tuhan, alam semester beserta isinya,Tanggung jawab, disiplin, dan mandiri, Jujur, Hormat dan santun, Kasih sayang dan peduli, Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, Keadilan dan kepemimpinan, Baik dan rendah hati, Toleransi, cinta damai, dan persatuan.

              Salah satu daerah di provinsi Jawa Timur yang dikenal dengan kota udang yakni Kabupaten Sidoarjo memiliki kearifan lokal, yang tidak boleh dipandang sebelah mata, diantarnya lelang bandeng, nyadran, jaran kepang, tari ujung dll. Nyas alah satu bentuk kearifan lokal masyarakat daerah Balongdowo-Sidoarjo. Nyadran dilakukan pada bulan Ruwah ( kalender Jawa ) ada tradisi yang dinamakan Ruwatan. Bentuk –bentuk Ruwatan ini dapat berupa bersih Desa ,Ruwah desa atau lainnya.

Di Sidoarjo tepatnya di Desa Balongdowo Kecamatan Candi  ada tradisi masyarakat yang dilakukan setiap bulan Ruwah pada saat bulan purnama. Tradisi tersebut dinamakan Nyadran, Nyadran ini merupakan adat bagi para nelayan kupang desa Balongdowo sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bentuk kegiatan Nyadran berupa pesta peragaan cara mengambil kupang di tengah laut selat Madura. Nyadran di Sidoarjo mempunyai ciri khas tersendiri. Kegiatan Nyadran dilakukan oleh masyarakat desa Balongdowo yang mata pencaharian sebagai nelayan kupang, pada siang harinya sangat disibukkan dengan kegiatan persiapan pesta upacara, mereka menyiapkan acara pesta dengan wajah sumringah hingga tengah malam.

Kegiatan ini dilakukan pada dini hari sekitar pukul 1 pagi. Orang- orang berkumpul untuk mengelilingi desa. Perjalanan dimulai dari desa Balongdowo Kec, Candi menempuh jarak 12 Km. Menuju dusun Kepetingan Ds. Sawohan Kec. Buduran. Perjalanan ini melewati sungai desa Balongdowo, Klurak kali pecabean, Kedung peluk dan Kepetingan ( Sawohan ).

Ketika iring-iringan perahu sampai di muara kali desa Pecabean, perahu yang ditumpangi anak balita membuang seekor ayam. Konon menurut cerita  dahulu ada orang yang  mengikuti acara Nyadran dengan membawa anak kecil dan anak kecil tersebut kesurupan. Oleh karena itu untuk menghindari hal tersebut masyarakat desa Balongdowo percaya bahwa dengan membuang seekor ayam yang masih  hidup ke sungai Pecabean maka anak kecil yang mengikuti nyadran akan terhindar dari kesurupan malapetaka.

Sekitar pukul. 04.30 WIB. Peserta iring-iringan perahu tiba di dusun Kepetingan Ds. Sawohan . Rombongan peserta nyadran langsung menuju makam dewi  Sekardadu  untuk mengadakan makan bersama. Sambil menunggu fajar tiba, peserta nyadran tersebut berziarah, bersedekah, dan berdoa di makam tersebut agar berkah terus mengalir. Menurut cerita rakyat Balongdowo Dewi sekardadu adalah putri dari Raja Blambangan  yang bernama Minak Sembuyu  yang pada waktu meninggalnya dikelilingi ikan kepiting itulah sebab mengapa dusun tersebut dinamakan Kepetingan. Tetapi orang-orang sering menyebut Dusun Ketingan.

Setelah dari makam Dewi Sekardadu, sekitar pukul 07.00 WIB, perahu-perahu itu menuju selat Madura yang berjarak sekitar 3 Km. Sekitar pukul 10.00 WIB. iring-iringan perahu tersebut mulai meninggalkan selat Madura. Kemudian mereka kembali ke Ds Balongdowo. Sepanjang Perjalan pulang ternyata banyak masyarakat berjajar di tepi sungai menyambut iring-iringan perahu tiba. Mereka menyambutnya dengan melambai-lambaikan tangan dengan muka sumringah, kemudian mereka meminta berkat/makanan yang dibawa oleh peserta nyadran dengan harapan agar mendapat berkah.

Ada satu proses dari pesta nyadran ini yaitu Melarung tumpeng Proses ini dilakukan di muara Clangap ( pertemuan antara sungai Balongdowo, sungai Candi, dan sungai Sidoarjo)

            Menurut Johan salah satu penduduk Balongdowo mengatakan bahwa tradisi nyadran biasanya dilakukan di bulan Juni. Menurutnya nyadran dilakukan dengan melaksanakan pesta dengan iringan tertawa dan senyum bahagia melingkari wajahnya  di sekitar jembatan Balongdowo tuturnya.

            Mayoritas yang mengadakan tradisi nyadran adalah golongan tua, golongan muda kurang tertarik untuk meneruskan tradisi ini, generasi muda muda zaman sekarang lebih tertarik untuk meniru kebudayaan asing daripada kebudayaan lokal.

            Padahal tradisi ini bisa dipamerkan ke wisatawan asing dengan membuat pesta yang meriah. Pemerintah daerah barangkali bisa menggaet kalangan muda pecinta budaya untuk memamerkan tradisi nyadran kepada masyarakat Indonesia dan wisatawan asing.

            Sekelumit cerita kearifan lokal dari kota Sidoarjo ini akan terus menjadi tradisi jika generasi muda ikut melestarikannya. namun apa jadinya jika generasi muda malah acuh terhadap kebudayaannya.

Jika bukan kita siapa lagi? jika bukan sekarang kapan lagi?

Mari bersama melestarikan budaya bangsa, karena kearifan lokal adalah identitas keunikan Indonesia

Bagikan berita